JUNG (JONG), PERAHU DAN KAPAL-KAPAL KECIL LAIN


Selama beberapa decade silam, para arkaelogi berhasil menggali sisa-sisa peninggalann masa lampau berupa puing-puing kapal di sebelah barat Indonesia. Peninggalan tertua adalah sisa-sisa perahu papan yang ditemukan di Pontian di ujung barat daya Semenanjung  Malaka, yang setelah dukur dengan metode karbon diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-3 sampai ke-5. Bagian-bagian dari perahu sejenis telah ditemukan di Thailand selatan yang, dari bukti-bukti yang ada, kemungkinan  berasal dari masa yang lebih kurang sama. Dan di Sumater Selatan, dekat dengan Palembang, telah ditemukan puing-puing yang sangat jelas berasal dari kapal yang besar dan kukuh dari abad ke-5-7 M. sumber-sumber dari Cina mengenai periode yang sama menyebutkan, kapal-kapal yang dibuat dari papan bersilangan dari wilayah kepulauan (Indonesia) panjangnya setara dengan 162 kaki; tetapi sejauh ini tak ada bukti langsung mengenai perahu besar semacam itu yang dapat meperjelas keberadaannya. Yang luar biasa dari semua barang peninggalan tersebut adalah bentuk-bentuk papan bersilangan, diikat dengan pelat sambung, dan teknik pasak tampak digunakan pada konstruksi perahu Indonesia selama seribu lima ratus tahun berikutnya.

Demikian pula di Palembang dan Sambirejo, Sumatera Selatan para arkeolog menemukan kemudi setengah lingkaran sepanjang 27 kaki dan masing-masing berukuran panjang 20 kaki-hampir sama dengan kemudi yang masih digunakan pada perahu-perahu  masa sekarang dan kemungkinan berasal dari paruh pertama millennium pertama Masehi. Rekonstruksi dari beberapa serpihan kayu lainnya dari sambirejo mengahasilkann sebuah strek sepanjang 47 kaki, dari kapal yang diperkirakan memiliki bentuk sempit dan panjang 65 kaki hingga 70 kaki. Diperkirakan, kedua perahu tersebut dan perahu sejenis yang ditemukan di Mindano Filipina, tidak stabil tanpa adanya cadik. Penemuan tersebut sangat berarti karena selama periode tersebut tidak ditemukan adanya sisa-sisa peniggalan kapal kuno di India selatan.

Sisa-sisa perahu berbentuk ramping dari Sambirejo kemingkinan berasal dari kapal yang serupa dengan perahu bercadik yang anggun dan mampu melaju kencang yang disebut kora-kora yang menyelinap diantara pulau-pulau dan tetap digunakan sebagai kapal perang lama setelah kedatangan Portugi. Pada abad ke-16, setiap pemimpin daerah Filipina dan Maluku memiliki armada kapal perang sendiri,status sang pemimpin tergantung dari jumlah budak, yang berasal dari pulau-pulau yang jauh, yang mampu ditangkap dan dikumpulkannya dengan menggunaka armada kapal. Setiap kapal didayung oleh 300 orang yang duduk berurutan pada tepian ganda di kedua sisi kapal. Mereka didukung oleh para perajurit bersanjata tombak, sumpit, panah dan panah yang ditempatkan di lantai yang tinggi. Para juru mudi mengendalikan kapal yang memiliki kemudi bercabang dua ke samping, dengan dibantu oleh layar dengan tiang berkaki tiga kyang membuat kapal berlaju kencang di permukaan air. Batang tinggi pada buritan dibuat mmelengkung keatas dan pada tiap ujungnya dihiasi pita-pita; dan pada masa lalu dihiasi oleh kepala-kepala musuh yang berhasil ditaklukkan.

Sisa-sisa penginggalan kapal yang lebih besar, seperti yang ditemukan di dekat Palembang, tampak berasal dari satu badan perahu tanpa cadik, yang kemungkinan merupakan cikal bakal perahu jong atau jongue  Indonesia yang tekenal, yang merupakan kapal barang yang masih ada dalam jumlah banyak hingga awal abad ke-16. Meskipun nama tersebut seperti nama kapal Cina, “jung”, jong mmerupakan hasil rancangan bangsa Indonesia, dan –jika sejarah pelayaran antarsamudera berjalan-cikal bakal kapal tersebut mungkin lebih tua daripada cikal bakal kapal Cina jung.

Kedua kapal tesebut memiliki peprbedaan dalam beberapa hal penting, misalnya papan-papan jong disatukan dengan pasak dari kayu, sedangkan jung disatukan dengan menggunakan paku-paku besi dan pengapit. Jong memiliki kemudi quarter-merupakan cirri khas yang menonjol dari perahu Indonesia maupun Cina. Jong seperti halnhya kapal Cina, memiliki badan dengan ketablan empat bahkan mungkin enamlapis kayu, selubung pelindung luar  baru diletakkan di atas kayu-kayu tersebut ketika mulai lapuk. Badan kapal setebal 6 atai 8 inci membuat jung maupun jong benar-benar berat dan sempurna. Teknik ini hamper dapat dipastikan diperlajari bangsa Cina dari bangsa Indonesia, mengingat Cina tidak memiliki kapal laut yang mampu mengarungi samudera sebelum abad ke-8 atau ke-9 M, yaitu ketika Sung berkuasa dan Cina mulai membangun angkatan laut yang kuat.

Dua peziarahh Budha dari Cina yang memiliki kapal Indonesia di Sumatra untuk menuju India meninggalkan catatan-catatan yang, meskipun berjarak antara abad ke-3 dan ke-8 M, penjelasan-penjelasan keduanya saling melengkapi satu sama lain. Kapal-kapal itu panjangnya 160 kaki, dan memiliki beban 600 ton; dibangun dari beberapa lapis papn; tidak mneggunakann besi sebagai ppenguat (yang menjelaskan bahwa kapal tersebut bukan milik bangsa Cina); papan-papan itu didikat satu sama lain dengan menggunkann serat pohon aren, dan dipasangi tiang-tiang dan layar. Karena tak sasstu pun penulis menyebutkan adanya cadik, diasumsikan bahwa kapal-kapal tersebut tidak memilikinya. Oleh karena itu, diperkirakan kapal-kapal itu merupakan cikal bakal dari jong, dan bukan kapal seperti kora-kora.

Namun, kesan yang paling “hidup” dasri jong ini dikutip dari seorang penulis sejarah dari Portugis, Gaspar Correla, yang menggambar kunjungan pertama Gubernur Alfonso de Albuquerque ke selat Melaka pada awal abad ke-16:

“karena junco itu memulai serangan, sang Gubernur medekatinya bersama seluruh armadanya. Kapal-kapal Portugis mulai menembaki junco , tetapi tidak ada pengaruhnya sama sekali, lalu juncoberlayar pergi….. kapal-kapal Potugis lalu menembaki tiang-tiang junco…dan layar-layarnya berjatuhan. Karena sangat tinggi, orang-orang kami tidak berani menaikinya, dan tembakan kami tidak merusaknya sedikit pun karena junco memiliki empat lapis papan. Meriam terbesar kami hanya mampu menmbus tak lebih dari dua lapis… melihat hal ini, sang Gubernur memerintahkan nau-nya untuk dating ke samping junco. (Kapal Portugis) ini adalah Flor de la Mar, kapal Portugis yang tertinggi. Dan ketika berusaha untuk menaiki junco, bagian belakang kapal hamper tak dapat mencapai dengan baik sehingga kapal Portugis terpaksa berlayar menjauhi kapal itu lagi. (Setelah pertempuran selama  dua hari dua malam) sang Gubernur memetuskan untuk memathkan dua buah dayung yang ada di luar kapal.

Setelah itu, barulah junco menyerah.

Terdapat sebuah rancangan kapal Indonesia lain yang terkenal yang dapat dilihat pada tujuh buah panel relief di dinding-dinding stupa abad ke-8 dan ke-9 di Candi Borobudur yang telah dijelaskkan sebelumnya. Seperti kasus-kasus yang lainnya, tak semua orang sepakat tentang apa yang dimaksud dengan gambar itu. Keyakinan Mookerji bahwa kapal-kapl tersebut adalah kapal-kapal India telah dibantah. Adrian Horridge berpendapat berpendapat bahwa kapal-kapal tersebut adalah cikal bakal dari kora-kora. James Hornell mengaanggapnya sebgai “keturunan” dari kolandiaphontha atau kolandia, yang menurutnya “kemungkinan merupakan jerabat  dekat kapal bercadik bertiang dua dari Jawa yang pahatannya ada di Borobudur, mengingat Periplus menyatakan dengan jelas bahwa kolandia berdagang hingga ke Chyse.” Dan Anthony Christie darii School of Oriental and African “Studies di London, yang menyamakan dengan kolandiaphonta  kun-lo-pa, yakin bahwa kapal-kapal tersebut dan kapal-kapal yang ada di Borobudur adalah nenek moyanng dari jong yangn berlayar perlahan dan bertahan dari tembaan meriam. Dari konstruksinya yang kukuh, kapal-kapal tesebut mampu melakukan perjalanan jauh. Dan faktanya bahwa kapal-kapal itu yang digambarkan (ddi relief Cnadi Boroobudur), memunculkan anggapan bahwa kapal-kapal tersebut pada masa itu setara dengan Boeing atau Airbus, sehingga pengaruh Indonesia tersebut sampai wilayah yang jauh dan luas…sebuahkemungkinan yang dibuktikan oleh perjalanan replica kapal Borobudur yang tba di Ghana pada Februari 2004 setelah berayar sejauh 11.000 mill dari Indonesia.

Disadur dari buku Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika, Robert Dick-Read, Bandung: Mizan, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s